Back to Top
  • LOVE THE LORD YOUR GOD

  • LOVE THE LORD YOUR GOD

  • LOVE THE LORD YOUR GOD

Bruder FIC Tumbang Titi

Bruderan FIC Tumbang Titi terletak di pedalaman Kalimantan barat tepatnya di Desa Sukabangun Tumbang Titi- Ketapang.

Dalam riwayat berdirinya cabang Ketapang, sudah dikatakan bahwa dari awal mulanya pos tersebut dimaksud antara lain sebagai batu loncatan menuju pedalaman. Nah, dalam tahun 1973 loncatan pertama sungguh diadakan. Pedalaman membutuhkannya , karena sekolah-sekolah di tengah hutan sangat kurang, hingga merupakan rintangan bagi sukubangsa yang ingin maju. Misi di Kalbar sudah mendirikan beberapa sekolah yang dipimpin Yayasan Usaba, tetapi seorang pastor di pedalaman tidak banyak mengkhususkan banyak waktu untuk meningkatkan mutu pengajaran. Di samping itu mereka memang tidak mempunyai banyak keahlian di bidang didaktik. Br. Alcuino sudah pernah berkeliling; dengan berkedudukan di Ketapang ia mengunjungi sejumlah sekolah dan sudah mengalami betapa perlu untuk masuk hutan. Tempat yang dipilih ialah Tumbang Titi.

Orang berangkat dari Ketapang , berjalan tiga puluh dua kilometer ke arah selatan,, akan berdiri di tepi sungai Pesaguan, sungai yang arahnya sejajar dengan sungai Pawan,yaitu sungai Ketapang. Naik perahu menghulu sungai Pesaguan lima puluh kilometer, orang akan sampai di Tumbang Titi, bukan kota, semacam desa saja. Tetapi desa itu mempunyai Gereja, mempunyai seorang pastur; bahkan Tumbang Titi mempunyai banyak orang katolik: penduduknya orang Melayu dan Daya. Tumbang Titi dikelilingi beberapa stasi dan sekolah, yang dilayani dari Tumbang Titi sebagai Pusat, disitulah beberapa bruder FIC menetap dalam tahun 1973, di dalam rumah bercorak Daya. Alcuino tidak akan tinggal lama pada pos terdepan; Ia segera dipanggil untuk membimbing sekolah-sekolah di Jawa. Br. Herman Josef Sagiman menerima tugas pada salah satu sekolah hutan di Nataipanjang, di situ rencana pelajaran serta daftar pelajaran masih agar kabur pelaksanaannya. Oleh karena Tumbang Titi berfungsi sebagai pusat, maka didirikan SMP USABA di situ. SMP itu diserahkan kepada Br. Ulberto yang harus menjadikannya sebagai sekolah yang khusus memperhatikan teori dan praktek pertanian” SMP Farming. Pertanian sebagaimana dijalankan di hutam rimba pada umumnya sungguh-sungguh bersifat liar: Orang Daya membakar sebagian dari hutan, kemudian tanah itu dijadikan ladang; setelah dipakai dibiarkan saja, karena si petani membakar bagian lain hutan, dan seterusnya; persediaan hutan masih banyak, problem untuk generasi yang menyusul tidak mereka pikirkan.

Komunitas Tumbang Titi mulai tahun 1976 terdiri dari enam bruder, tugas di hutan menjadi alasan untuk meninggalkan ”kota” Ketapang dengan telponnya, dengan mobilnya, meskipun sedikit sekali, dengan toko-tokonya. Demi tugas itu mereka berpalpal menghulu sungai Pesaguan yang berbelit-belit.

Tumbang Titi mempunyai keistimewaan :ada dokter negeri istimewa: Sr. Gabrielle, BKK. Selain itu kehidupan di hutan berciri begitu sederhana hingga tidak setiap orang Eropa dapat menjalankannya tanpa resiko. Maka dari itu Dewan Provinsi memutuskan dalam tahun 1977 akan memperbaiki perumahan : Br. Baaf Stokman, anak seorang tukang kayu, ia sendiri juga tukung kayu – perencana – pelaksana, mulai membangun bruderan dalam tahun 1978.

Inspeksi dan bimbingan sekolah-sekolah di hutan, sebagaimana dimulai Br. Alcuino, dilanjutkan beberapa tahun oleh Br. Eustatius Wiryamartoyo. Di Muntilan ia sudah membuktikan bakatnya di bidang didaktik, di Tumbang Titi ia menjadi orang yang merasa terpanggil untuk berkarya di hutan. Pada waktu ia menjadi overste di Tumbang Titi dan pemimpin SMP, tugasnya sebagai pembimbing sekolah diambil alih oleh Br. Herman Josef Sagiman. Tugas itu menuntut kesabaran besar, juga menuntut keahlian naik sepeda motor melalui jalan tikus, jalan licin di hutan. Romantik kalau ditinjau dari jauh. SMP Farming menerima perhatian penuh dari Br. Ulberto; sesudah tahun1975 dengan pertolongan Br. Johannes de Deo. Untuk membangun perumahan SMP Farming dan untuk mengembangkan praktek dan teori pertanian, Tumbang Titi memperoleh subsidi sebesar 75.000 gulden melalui Cebemo. Bantuan mengalir dari pihak lain juga: ketika COS, Pusat Pelayanan Pengajaran di Nijmegen, dibubarkan,hadiah berupa uang 25.000 gulden oleh Sixtus van der Geest untuk proyek SMP Farming di Tumbang Titi.

Baaf Stokman membangun sekolah, Pius – dan sesudahnya Assisius – menjadi field –worker secara harafiah, Ulberto bersama Johannes de Deo memperhatikan SMP. Semacam perumahan sederhana – jangan disamakan ”asrama” bagi sejumlah murid dari jauh di hutan. Direncanakan kalau nanti terwujud maka SMP Farming akan bertambah status. Tetapi proyek akan menghasilkan buah yang lebih berguna andaikata dalam staf ada seorang yang sungguh ahli Pertanian Tropis. Mudah-mudahan di hari kemudian.

Dalam tahun 1977 komunitas di hutan diperkuat : Br. Otto Bruins memilih Tumbang Titi sebagai tempat menikmati pensiun, karena merasa terkesan oleh cara hidup jauh dari kemakmuran dan kemewahan, terkesan juga oleh nilai sosial proyek Tumbang Titi. Meskipun berumur 70 tahun, ia menerima tugas urusan rumah tangga di hutan rimba, suatu tugas yang kontaknya dengan toko daging atau toko roti tidak mengambil tempat yang lebih penting ialah mencari daun-daunan untuk menambah vitamin dan mineral bagi gizi komunitas.

Tumbang Titi..Umurnya baru tujuh tahun. Belum mencapai puncak kedewasaan.

Beberapa Bruder yang menjalani karya perutusan di Tumbang Titi adalah: Br. Marsel Senen,  Br. Y.B Suranto dan Br. Andreas Djoko Purnomo.

(Sumber dari : BR. JOACHIM VAN DER LINDEN, FIC DALAM BUKU DONUM DESURSUM

KONGREGASI FIC DI INDONESIA 1920 – 1980, 178 – 179)


Suster OSA Komunitas St. Lidwina Tumbang Titi

Terdorong oleh semangat pelayanan demi mengembangkan Kerajaan Allah dan atas dukungan dari para biarawan Pasionis, maka pada tanggal 23 Juni 1953 Kongregasi Suster St. Augustinus mengutus mengutus beberapa suster untuk mulai berkarya di Tumbang Titi yang terletak + 90 km dari Ketapang. Ketika itu Sr. Wulfrana, OSA sebagai pemimpin umum Kongregasi ikut menghantar Sr. Desideria, OSA dan Sr. Euphrasia, OSA ke Tumbang Titi.

Tanggal 29 Juni 1953 para suster mulai berkarya dengan mengambil alih poliklinik yang sebelumnya dikelola oleh Karman dan Refuse sejak tahun 1950, dua orang tenaga awam yang berasal dari Belanda. Sebagai Pegawai Negeri ketika itu Sr. Desideria juga berkarya di Rumah Sakit Pemerintah Tumbang Titi. Selain itu para suster juga membuka asrama puteri untuk para pemudi yang mengikuti Kursus Kepandaian Rumah Tangga (KKRT).

Kesaksian hidup yang nyata dari para suster dalam kehidupan masyarakat menumbuhkan benih-benih panggilan dalam hati para pemudi yang berasal dari daerah sekitarnya, antara lain: Sr. Nicilausina, OSA, Sr. Ancilla, OSA, Sr. Vincentia, OSA, Sr. Agneta, OSA, dan Sr. Magdalena, OSA serta beberapa pemudi lainnya.

Selain berkarya di bidang kesehatan, pendidikan, dan pastoral, sejak tahun 1961 para suster juga berkarya di sekolah Taman Kanak-Kanak yang didirikan oleh organisasi ibu-ibu Pertiwi. Karena situasi dan tuntutan yang semakin tinggi maka akhirnya pada tahun 1970 TK tersebut diserahkan kepada para suster OSA dan sejak itu pula TK tersebut dikenal dengan nama TK. Kuntum Karya di bawah naungan Yayasan Usaba dan kini berada di bawah naungan Yayasan Pelayanan Kasih Fatima.

Perkembangan karya yang ada menuntutnya adanya perluasan dan penambahan gedung dan atas bantuan Br. Florentinus, CP terhitung tanggal 25 Mei 1965 komunitas dan asrama puteri yang baru mulai ditempati dan diresmikan oleh Mgr. Silleken, CP.

Dalam perjalanan selanjutnya karena perkembangan pelayanan kesehatan dari pemerintah maka para suster tidak lagi berkarya di bidang kesehatan, tetapi fokus pada karya pendidikan, pastoral, dan sosial. Namun demikian sejak tahun 2002 untuk mengenang karya perdana para suster di Tumbang Titi maka komunitas OSA Tumbang Titi diberi nama “St. Lidwina” yang mencapai kekudusannya karena perhatian dan pelayanannya di bidang kesehatan bagi ibu-ibu dan anak-anak.

VISI

Bersatu dengan Allah yang Maharahim dan berbelas kasih dengan semangat sehati-sejiwa dalam komunitas, serta turut memberdayakan dan mengembangkan taraf kehidupan masyarakat pedalaman terutama bagi mereka yang kecil dan lemah.

MISI

  1. Membangun suasana yang harmonis di komunitas,
  2. Saling mendukung dalam pengembangan diri baik sebagai religious maupun dalam karya, dan
  3. Meningkatkan kwalitas pelayanan di bidang pendidikan, sosial, dan pastoral.

 

KARYA KOMUNITAS

  • TK. Kuntum Karya
  • Asrama Puteri Bina Nazareth


KERASULAN KOMUNITAS

  • Legio Mariae
  • Sekolah Minggu
  • Doa Lingkungan

Doa Malaikat Tuhan (Angelus)


Doa ini dibawakan pada pagi Jam 6.00 - Siang Jam 12.00 - Petang Jam 18.00


Maria diberi kabar oleh malaikat Tuhan,

Bahwa ia akan mengandung dari Roh Kudus.

Salam Maria ...


Aku ini hamba Tuhan,

Terjadilah padaku menurut perkataan-Mu.

Salam Maria ...


Sabda sudah menjadi daging,

Dan tinggal diantara kita.

Salam Maria ...


Doakanlah kami, ya Santa Bunda Allah,

Supaya kami dapat menikmati janji Kristus.

Marilah berdoa (Hening)


Ya Allah, karena kabar malaikat

kami mengetahui bahwa Yesus Kristus Putra-Mu menjadi manusia;

curahkanlah rahmat-Mu ke dalam hati kami,

supaya karena sengsara dan salib-Nya,

kami dibawa kepada kebangkitan yang mulia.

Sebab Dialah Tuhan, pengantara kami.


(Amin)

Pisah Sambut

Setelah lebih kurang 3 tahun melayani paroki Tumbang Titi, Pastor Cemis harus pindah tugas menuruti SK Uskup yang berlaku mulai tanggal 1 Agustus 2014. Beliau pindah tugas ke Paroki Tayap, dan tugas beliau melayani di paroki Tumbang Titi digantikan oleh Pastor Endi, yang sebelumnya bertugas di paroki Tembelina.

Setelah mengadakan pertemuan pada tanggal 22 Juli 2014, maka disepakatilah pada Minggu, 27 Juli diadakan acara pisah sambut secara sederhana di sekretariat paroki.

Acara pisah-sambut ini diawali dengan Perayaan Ekaristi Minggu, yang dipimpin oleh Pastor Harimurti sebagai konselebran utama, didampingi oleh Pastor Cemis dan Pastor Endi. Dalam khotbahnya, Pastor Hari menyambut dengan baik kedatangan Pastor Endi dan mengucapkan terima kasih atas kerjasamanya selama ini dengan Pastor Cemis. Keduanya adalah pastor pribumi, pastor yang berasal dari tanah Kalimantan. Semoga kedua pastor ini bisa menjadi contoh bagi anak muda sekarang dan menanamkan benih panggilan bagi kaum muda, karena panggilan untuk menjadi imam pada masa sekarang sangatlah sukar ditemui. Di akhir misa, Pastor Cemis dan Pastor Endi diberikan kesempatan untuk berbicara di depan para umat, memberikan sedikit kesan dan pesan pada umat.

Pada jam 12 siang, diadakan acara ramah tamah secara sederhana di sekretariat paroki, bersama Pastor Hari, Pastor Cemis, dan Pastor Endi, serta para anggota Dewan Paroki dan undangan. Setelah beberapa sambutan dan penyerahan kenang-kenangan pada Pastor Cemis, acara ditutup dengan makan bersama.

Sampai berjumpa lagi, Pastor Cemis. Semoga berhasil dan tetap bersemangat di tempat tugas yang baru.

Selamat datang, Pastor Endi. Semoga betah dan selalu bergembira di paroki kami.

~ Deo Gratias ~

Kemanakah Jalan Kita?

Kabupaten Ketapang adalah salah satu Daerah Tingkat II di provinsi Kalimantan Barat. Ibu kota kabupaten ini terletak di Kota Ketapang, sebuah kota yang terletak di tepi Sungai Pawan. Kabupaten ini memiliki luas wilayah 31.240,74 km² dan berpenduduk sebesar 427.460 Jiwa (sensus 2010).

Daerah Kabuputen Ketapang mempunyai luas wilayah 35.809 km² (± 3.580.900 ha) yang terdiri dari 33.209 km² wilayah daratan dan 2.600 km² wilayah perairan serta memiliki 20 kecamatan, salah satunya adalah kecamatan Tumbang Titi (wikipedia).

Memasuki kota Ketapang adalah sebuah pengalaman yang tak terlupakan. Tata kota yang begitu rapi, bersih, dan tertib. Kota Ketapang sendiri merupakan sebuah kota yang cukup maju. Persekolahan yang cukup banyak, beberapa perguruan tinggi juga ada di kota Ketapang. Terdapat dua Rumah Sakit yang cukup terkenal di kota ini, yaitu RSUD Agoesdjam dan RS Fatima. Berbagai infrastruktur bangunan yang cukup megah berdiri di kota Ketapang, bahkan dalam waktu dekat ini, akan berdiri sebuah mall di kota Ketapang.

Infrastruktur jalan dan transportasi dalam kota Ketapang sendiri cukup baik. Jarang ditemui jalanan yang berlubang ataupun rusak di 20140704_112009_1dalam kota Ketapang. Kota Ketapang dapat dijangkau dari kota lain melalui Bandara Rahadi Oesman dan Pelabuhan Sukabangun. Transportasi antar desa/kecamatan di daerah kabupaten Ketapang bisa menggunakan bus, speed boat, atau kendaraan pribadi (motor, mobil).

Menilik dari infrastruktur jalan antar desa/kecamatan menuju kota Ketapang, bisa kita bandingkan seperti langit dan bumi. Saya lebih mengacu kepada jalan dari daerah kecamatan Tumbang Titi dan sekitarnya menuju ke kota Ketapang. Tumbang Titi ke Ketapang hanya berjarak sekitar 90km, yang sebenarnya bisa ditempuh lebih kurang 1,5 – 2 jam dengan sepeda motor. Tetapi karena infrastruktur jalan yang sangat tidak memadai, perjalanan menuju kota Ketapang bisa memakan waktu 3-4 jam.

Keadaan ini sudah berlangsung sangat lama. Pertama kali saya menginjakkan kaki ke kota Ketapang kemudian berlanjut ke kecamatan Tumbang Titi pada tahun 2004, kondisi jalan lebih kurang sama dengan yang sekarang. Betul, sudah lebih kurang 10 tahun, tetapi tetap belum ada perubahan yang berarti dengan infrastruktur jalan yang ada. Perbaikan-perbaikan yang ada tidak bertahan lama, entah karena pengerjaannya yang setengah-setengah, entah karena dana yang tidak cukup, entah karena memang struktur tanah di daerah kabupaten Ketapang yang labil (daerah gambut, rawa), atau karena ada hal lain.

Memprihatinkan. Itu kata yang sempat terucap dari mulut saya. Kondisi jalan yang buruk dan sama sekali tidak diperhatikan, sampai-sampai tumbuh semak di tengah-tengah jalan yang ada, longsor di mana-mana, tunggul kayu di tengah jalan, jalan yang menjadi parit, pos-pos meeting (orang-orang yang minta uang untuk jasa perbaikan jalan seadanya) dimana-mana. Seperti yang saya katakan sebelumnya, kondisi ini seperti berbanding terbalik, seperti langit dan bumi, saat kita memasuki kota Ketapang yang beraspal mulus, tanpa lubang di sana-sini.

Apa yang dilakukan oleh pemerintah daerah selama ini? Ini menjadi pertanyaan besar. Mengacu pada misi Pemerintah Kabupaten Ketapang, yang salah satunya adalah “Membangun dan meningkatkan kualitas sarana transportasi strategis, jalan produksi pertanian, irigasi persawahan, serta infrastruktur lainnya dengan memperhatikan skala proritas dan berkeadilan” (www.ketapangkab.go.id), seperti apakah yang berkeadilan, sementara prioritas hanya berpusat pada pembangunan dalam kota dan sekitarnya. Berkeadilankah bila selama lebih kurang puluhan tahun kondisi jalan seperti ini dibiarkan?

Masyarakat Tumbang Titi sendiri banyak mengeluhkan kondisi seperti ini. Beberapa yang pernah saya tanya mengatakan, kata pemerintah sih tahun depan. Kalau tidak tahun depannya lagi jalan itu diperbaiki. Selalu seperti ini. Bahasa di sini kopak mah (capek). Orang-orang lebih banyak memilih bertransaksi ke Pontianak, walaupun jarak tempuh yang lebih jauh (lebih kurang 9 jam), tetapi jalan jauh lebih bagus dan beraspal.

Infrastruktur yang baik, terutama jalan, tentu akan mempermudah transportasi publik maupun pribadi. Perekonomian daerah pun bisa menjadi lebih baik, karena transportasi yang lancar, barang-barang pun menjadi mudah didapat dan tidak mahal. Banyak keuntungan yang diperoleh oleh daerah jika infrastruktur jalan dibenahi.

Di bawah ini adalah Visi dan Misi Pemerintah Kabupaten Ketapang.

A.Visi

“Terwujudnya Kabupaten Ketapang Yang Aman, Damai, Adil dan Sejahtera, Didukung Masyarakat Yang Cerdas, Sehat dan Beriman, Serta Aparatur Pemerintah Daerah Yang Bersih dan Berwibawa”.

B.Misi

• Mewujudkan Kabupaten Ketapang yang Aman dan Damai.

• Membangun dan meningkatkan kualitas prasarana transportasi strategis, jalan produksi pertanian, irigasi persawahan, serta infrastruktur lainnya dengan memperhatikan skala prioritas dan berkeadilan.

• Mewujudkan pembangunan perekonomian masyarakat Kabupaten Ketapang yang berbasis Agraris, Perikanan dan Kelautan, Peternakan dan Usaha Kecil Menengah dan Koperasi.

• Mewujudkan Masyarakat Kabupaten Ketapang Yang Cerdas, Sehat dan Beriman.

• Mewujudkan Aparatur Pemerintah Daerah yang profesional, bersih dan berwibawa

• Meningkatkan Kelestarian Lingkungan Hidup dan Penanggulangan Bencana.

• Meningkatkan Pendapatan Daerah.

Point-point misi di atas bisa menjadi renungan kita bersama atas apa yang sudah dikerjakan oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Ketapang sampai saat ini. Semoga pembangunan dan perbaikan selanjutnya tidak hanya diprioritaskan di dalam kota, tetapi juga di daerah-daerah dan kecamatan-kecamatan di bawah naungan Pemerintah Kabupaten Ketapang.














Pertemuan OMK Ketapang

Keuskupan Ketapang mempunyai agenda untuk OMK se-Keuskupan Ketapang, yaitu mengadakan pertemuan OMK se-keuskupan setahun sekali. Kali ini, pertemuan OMK diadakan di Balai Semandang.

Rombongan pertama OMK Tumbang Titi berangkat jam 09.30 selesai misa pagi , dan tiba di Balai Semandang jam 16.00 sore. Sesuai jadwal, pada pukul 17.00 sore, diadakan misa pembukaan pertemuan OMK yang dipimpin langsung oleh  Mgr. Pius Riana Prapdi, Uskup Ketapang. Sedangkan rombongan kedua berangkat jam 16.30 dari tumbang titi karena ada beberapa peserta OMK yang masih ikut ujian UT. Rombongan kedua sampai di Balai Semandang  jam 22.30 malam bersama rombongan Mahasiswa UT dari Balai Berkuak. Ada sekitar 10 motor dalam perjalanan. Celakanya, 2 motor sempat mogok dan masuk bengkel di Tayap. “Luar biasa”. Itulah kata-kata yang sempat terucap saat menyusui jalan menuju Balai Semandang dan kembali ke Tumbang Titi. Jatuh bangun karena harus melewati jalan berlumpur mulai Tumbang Titi – Batu Emas. Jalan mulai licin,bagus dari selupuk sampai Balai Semandang.

Seluruh kegiatan OMK dipusatkan di aula CU Semanjang Jaya. Makan dan minum di pastoran. Acara hiburan dan atraksi dilaksanakan di samping pastoran. Seluruh peserta menampilkan kebolehannya masing-masing dengan tarian, lagu, lawak, cerita, drama, dan bernyanyi. Tak ketinggalan juga para Pastor, Frater, Bruder, dan Suster ikut memeriahkan hiburan atraksi malam gembira yang dipimpin oleh Rm. Pamungkas, Rm. Nedy dan Fr. Yusri Basri. Pendamping istirahat di mess CU Semandang Jaya dan di Pastoran bersama panitia.

Jumlah peserta pertemuan OMK kali ini lebih kurang 190 orang,  ditambah pendamping dan panitia.

Kegiatan selama pertemuan OMK lebih pada dialog dan penyampaian materi. Bpk.Alkap Pasti memberikan materi tentang junarlistik dan kemudian masuk dalam kelompok paroki untuk membuat berita buletin paroki masing-masing. Kemudian dipresentasikan pada awal pertemuan sampai selesai hari pertama).

Hari kedua penyampaian materi  tentang motivasi CU Semandang Jaya dari tim CU sendiri. Selain itu, tim Kepemudaan Keuskupan Ketapang (Jojo, Doni, Kimpin dan kawan-kawan) menyampaikan beberapa materi.

Pertemuan OMK kemudian ditutup dengan misa penutupan jam 10.00 sampai selesai. Tahun Depan pertemuan OMK dilaksanakan di  Ketapang.

Semoga kegiatan pertemuan OMK ini semakin memberikan semangat bagi kaum muda Katolik untuk terlibat aktif dalam hidup menggereja di parokinya masing-masing.

(Sr. Laetitia, OSA)