Back to Top
  • LOVE THE LORD YOUR GOD

  • LOVE THE LORD YOUR GOD

  • LOVE THE LORD YOUR GOD

DAFTAR BACAAN DAN SARAN NYANYIAN LITURGI TAHUN B

Gereja Katolik memiliki kalender tersendiri yang mengatur perayaan, pesta, peringatan para orang kudus, dan hari biasa, selama 1 tahun. Jadi, dalam kalender Gereja Katolik tersebut diatur bacaan-bacaan Kitab Suci yang dibacakan dalam Ekaristi harian dan mingguan.
Kita umumnya mengenal Tahun Masehi yang berawal pada tanggal 1 Januari dan berakhir tanggal 31 Desember. Tahun Liturgi berbeda dengan Tahun Masehi. Awal tahun liturgi dimulai pada Hari Minggu Adven I [akhir November – awal Desember], yang menantikan kedatangan Tuhan Yesus yang pertama. Akhir tahun liturgi jatuh pada Hari Raya Kristus Raja Semesta Alam [akhir November], yang merayakan kedatangan Tuhan Yesus yang kedua kalinya, yakni pada akhir zaman. Sepanjang tahun liturgi, Gereja menghadirkan seluruh misteri keselamatan Allah yang terlaksana dalam diri Tuhan Yesus Kristus.

Umat pada umumnya kesulitan untuk menentukan lagu apa yang akan dipakai pada saat Ekaristi Minggu, terutama bagi para petugas koor. Pada kesempatan ini, redaksi akan membagikan saran nyanyian liturgi tahun B dan daftar bacaan yang digunakan untuk Perayaan Ekaristi Minggu dan Hari Raya. Daftar ini disusun oleh Komisi Liturgi KWI.

Daftar nyanyian liturgi yang terdapat di dalamnya merupakan saran yang memudahkan umat untuk menentukan nyanyian pada Misa hari Minggu dan Hari Raya. Umat dapat menentukan sendiri nyanyian liturgi yang dirasa tepat sesuai dengan tema perayaan pada saat itu.

Daftar tersebut dapat diunduh di sini

Stasi Sebauk: Kristus Merajai Kita

Ada cerita seru pada Hari Raya Kristus Raja Semesta Alam di Stasi Sebauk. Ketika dua orang hamba Tuhan berangkat bersama-sama menggunakan kendaraan motor masing-masing dan tiba dengan penuh semangat. Hari yang cerah begitu memikat hati penulis dan Bruder Iswanto FIC yang akan memimpin ibadat sabda di Gereja Maria Ratu Rosari Sebauk ini. Umat mulai berdatangan,  sementara kami berdua agaknya terlalu awal tiba di lokasi saking bersemangatnya. 

Sembari menanti waktu dan Gereja dibuka, kami berbincang-bincang sejenak mengenai musim buah yang nyaris tidak terjadi pada tahun ini. Disebutlah dalam cerita: buah durian,  buah pekawai, buaj sinai, dan buah-buahan musiman lainnya. Bahkan pohon mangga di sekitar jalanan terlihat lenggang tanpa bunga di pucuk-pucuknya. Hanya buah rambutan yang mulai menyembul dari balik pepohonannya yang rimbun. 

Waktu sudah menunjukkan pukul sembilan, kami bergegas masuk ke dalam kapel dan mempersiapkan jiwa dan raga kami untuk melayani altar-Nya yang kudus. Sesekali umat tersenyum menatap penulis dan tentu bertanya, siapa gerangan manusia yang baru menampakkan wajahnya ini? Penulis hanya membalikkan senyuman tanda bahwa sukacita beresonansi di antara kita. 

Ibadat sabda dikumandangkan,  Bruder Iswanto membuka kesakralan ibadat sabda dengan tanda kemenangan Kristus. Paduan suara bergema, bacaan sabda didengarkan, mazmur dan Alleluia terdengar begitu syahdu dan merdu. Penulis menikmati indahnya suasana ibadat sabda sembari mempersiapkan diri mengolah batin untuk menyampaikan sabda Tuhan yang dikemas dalam situasi masa kini. 

Penulis berdiri di podium,  sembari memandang ke arah umat yang menanti dengan penuh perhatian. Raja Kristus yang penuh belas kasih, itu pesan dari ke semuanya. Wajah-wajah umat penuh antusias mendengarkan, meresapi setiap nafas dan kata yang penulis hembuskan. Raja yang diinginkan Kristus,  bukanlah Raja yang berhiaskan tahta, harta dan wanita, melainkan Raja yang melayani, Raja yang penuh kasih,  Raja yang mencintai siapa saja tanpa memandang bulu. Raja yang merajai hidup kita, dan kitalah raja-raja yang meniru kepemimpinan Tuhan Yesus sendiri. Bukan sekedar orasi retorika, tetapi harapannya umat melaksanakan itu dalam dunia nyata. 

Suasana semakin sakral ketika tubuh Kristus hendak dibagikan. Kebahagiaan tak terkira, menyentuh Tubuh Tuhan dalam rupa roti yang lemah dari tahta-Nya. Memandang Dia dalam kerapuhan dan membagikannya pada umat seraya berkata, "Tubuh Kristus" dan "Amin". Betapa indahnya cinta Tuhan pada kita semua. 

Di sela-sela pengumuman, Bruder Iswanto berkata bahwa Tuhan sungguh merajai diri kita. Jika Raja sudah memanggil, maka kita sebagai hamba-Nya harus tunduk dan mengikuti-Nya ke manapun Tuhan pergi. Saat itu juga, penulis diminta memperkenalkan diri lebih jauh. Kami bersaksi bahwa panggilan ini tidak mengenal kata terlambat, bukan karena umur, tidak juga terhambat karena kemapanan. Kami terpanggil dari waktu yang panjang dan bersaksi bahwa Tuhan amat mencintai kami.

Terima kasih pada Tuhan atas waktu yang telah diberikan dan hidup kami. Kami boleh bersukacita dan bergembira bersama umat di Sebauk. Biarlah Tuhan tetap merajai kami, sehingga buah-buah kasihnya senantiasa ranum dan manis untuk dikecap oleh semua orang. Semoga semakin banyak yang terpanggil menjadi serupa dengan Dia baik sebagai imam, bruder maupun suster. 

Dokumentasi :

Tim Pewartaan Menjawab Kerinduan

Masa pandemi, telah menyekat dan membatasi pergerakan semua sisi kehidupan. Namun dalam keadaan ini bukan berarti harus berdiam diri dan tidak melakukan apa pun. Justru bisa membuat kita lebih kreatif dan inovatif dalam menemukan strategi Pewartaan. Jika mengumpulkan banyak orang hal yang harus dihindari, maka pewartaan dalam kelompok kecil lah caranya. Beranjak dari hal inilah, tim pewartaan Paroki St. Paulus Rasul Tumbang Titi mewartakan kasih dan firman Allah dimulai dari Stasi dan kelompok kecil. Br. Dono, Ibu Anas, Pak Curun dan Bu Erni mulai melayani Stasi Suka Damai, mengajak anak remaja dan anak-anak bernyanyi memuji Tuhan dan merenungkan FirmanNya.

Semangat anak-anak dan kerinduan para remaja telah menyulut semangat kami untuk pergi ke Stasi lain yang ada di paroki Santo Paulus Rasul Tumbang Titi. Semoga apa yang telah ditanam terus bertumbuh.

Di kesempatan berikutnya, Tim Pewartaan Paroki akan mengunjungi stasi-stasi yang ada di wilayah Paroki Tumbang Titi.  



Penulis:

Maria Erni, Tim Pewartaan Paroki

 

Safari Natal di Paroki Tumbang Titi

Sabtu, 21 November 2020, Paroki Paulus Rasul Tumbang Titi menerima Kunjungan Safari Natal dari Pemda Ketapang. Rombongan dari Kabupaten Ketapang diterima oleh Paroki di Gereja. Hadir sebagai ketua wakil dari Pemda Ketapang, PJ. Sekda Kabupaten Ketapang, Bapak Heronimus Tanam, yang juga sebagai ketua rombongan. Dari pihak Paroki Tumbang Titi, hadir beberapa wakil dari Dewan Pastoral Paroki.

“Safari Natal kali ini, rombongan dari Kabupaten Ketapang dibagi menjadi dua tim. Tim selatan yang dipimpin oleh saya, dan tim utara yang dikepalai oleh Pak Franseda,” demikian ujar Pak Tanam dalam sambutannya.

RD. Fransisco El Tara sebagai wakil dari Paroki mengucapkan terima kasih atas perhatian dari pihak Pemerintah Daerah Kabupaten Ketapang.

“Ini merupakan bentuk perhatian Pemerintah kepada kami, Paroki Tumbang Titi. Juga dalam
situasi pandemi Covid-19 ini, mari kita saling mendukung dan saling membantu dalam menjalankan tata peribadatan dengan memperhatikan protokol kesehatan yang diberlakukan.”

Dalam kesempatan lain, Camat Tumbang Titi, Bapak Sabran, S.PD, MH., juga memberikan sambutannya mewakili masyarakat Tumbang Titi dan Forkompincam yang juga hadir dalam Safari Natal kali ini. “Dalam situasi seperti ini, bantuan yang diberikan sungguh bermanfaat, terutama bagi masyarakat kami di daerah pedalaman.”

“Kegiatan Safari Natal dalam bentuk kunjungan ini sudah dilakukan sejak tahun 2015. Ini juga berlaku saat ada Safari Ramadhan,” demikian Pak Tanam sampaikan dalam sambutannya lagi.

“Sebelumnya paket yang diberikan juga berbeda, yaitu paket makanan dan minuman. Setelah beberapa evaluasi, tahun ini paket bantuan yang diberikan berupa beras. Untuk Paroki Tumbang Titi, beras sebanyak 1 ton akan diberikan, dan pengelolaannya sepenuhnya dipercayakan kepada Paroki, supaya umat juga merasakan manfaatnya. Beras yang kami berikan juga merupakan beras lokal yang kami beli dari petani lokal yang ada di Kabupaten Ketapang.”

Setelah memberikan kata sambutan, Pak Tanam menyerahkan bantuan beras secara simbolik kepada Ketua DPP, Bapak Wilhelmus Polo, dan RD. Fransisco El Tara menerima secara simbolik bibit Matoa dari Pak L. Sikat selaku Kepala Dinas Pertanian Peternakan dan Perkebunan Kabupaten Ketapang.

Rombongan selanjutnya bertolak menuju Serengkah dan Marau untuk melanjutkan Safari Natal.

Beberapa dokumentasi:







 

Pelayanan Nikah di Petebang

Pada hari Jumat (20/11/2020), penulis bersama Romo Ubin melayani umat di Stasi Petebang. Pelayanan yang akan dilakukan adalah penerimaan sakramen perkawinan. Sebelumnya, pada kamis siang kami berencana untuk berangkat. Namun keadaan cuaca yang kurang bersahabat, kami menunda perjalanan karena hujan begitu deras. Sore sekitar pukul tiga, kami bersiap-siap untuk berangkat. 

Dari Tumbang Titi jalan masih begitu mulus meskipun hujan tidak terlalu deras. Setelah memasuki tanah merah, genangan air dan jalanan becek menjadi pemandangan sepanjang jalan. Kami harus melewati jalanan tersebut dengan hati-hati karena kondisi tanah agak basah dan becek. Dan benar, motor yang saya kendarai kehilangan kontrol ketika melewati 'jalan punggung kuda' di Natai Landau dan masuk ke parit yang ada di sekelilingnya. Berkali-kali motor saya sulit dihidupkan karena tanjakan terlalu terjal bahkan Romo Ubin sampai turun dan membantu saya untuk mendorong motor ke atas. Syukurlah ketika sampai di atas, jalanan selanjutnya tidak terlalu terjal dan kami tiba di Petebang dengan keadaan motor penuh lumpur.

Kami menginap di kediaman Kepala Desa Petebang. Setelah menaruh barang-barang di kamar,  kami menuju Gereja Kapel Stasi Petebang yang dilalui melalui jalan setapak beton yang tidak jauh dari tempat kami menginap. 

Di kapel,  pengantin,  saksi dan orang tua bersama beberapa umat telah berkumpul untuk gladi bersih. Ada yang mempersiapkan listrik dengan genset karena listrik PLN belum masuk ke gedung Gereja. Ada yang mempersiapkan alat musik dan sound system. Sementara Romo Ubin bersama penulis membantu kedua mempelai, saksi dan orang tua melatih prosesi misa perkawinan yang akan diadakan besok. Setelah gladi bersih, kami diajak untuk mengikuti prosesi adat di rumah mempelai, hanya saja kami sudah kelelahan dan kami memutuskan untuk kembali ke penginapan untuk beristirahat. 

Penulis sempat berjumpa dengan sahabat lama sewaktu SMA dan kami berbincang-bincang bersama hingga larut malam di rumah Kepala Desa Petebang. Kami mendengarkan cerita dari keluarga tersebut mengenai keadaan desa, masyarakatnya, dan sharing lainnya. Barulah, kami beristirahat supaya besok dapat melaksanakan peribadatan dengan baik dan lancar. 

Esok harinya, misa perkawinan dimulai. Kami sarapan di rumah Kepala Desa terlebih dahulu.  Mempelai berdua telah tiba di kapel sebelum kami datang ke sana. Penulis bersama Romo Ubin serta ketua umat mempersiapkan altar, sibori, piala, hosti, lilin dan lain-lain. Ketika segalanya telah siap, misapun dimulai. 

Misa dipimpin langsung oleh RD Bonifasius Ubin. Paduan suara perkawinan tersebut dilayani oleh umat di Tanjung. Misa perkawinan berjalan dengan sangat khidmat. Umat datang dengan melaksanakan protokol kesehatan, mencuci tangan sebelum masuk dan mengenakan masker. Penulis sendiri bertugas membagikan komuni kepada para umat.  Misa perkawinan selesai, kedua mempelai berfoto bersama-sama Romo,  keluarga dan umat. 

Usai merayakan misa, penulis bersama Romo Ubin bergegas untuk pulang mengingat cuaca sudah sangat bersahabat dan mengantisipasi terjadinya hujan ketika kami pulang nanti. Kami sempat mengunjungi rumah pengantin dan makan duluan, karena makan adat dimulai pukul tiga sore. Setelah makan,  kami berpamitan dan pulang menggunakan kendaraan motor.

Selama perjalanan pulang aman dan lancar karena tanah yang semula becek telah menjadi kering sehingga mudah untuk dilalui. Romo Ubin sempat terjebak di dalam cekungan, tetapi tidak terlalu menyebabkan masalah besar. Motor dapat berjalan kembali setelah naik di atas cekungan tadi. Sementara motor WIN yang saya kendarai berjalan dengan aman dan lancar. Kamipun tiba di pastoran dengan aman dan selamat. 

Penulis merasakan pengalaman yang sangat luar biasa berharga. Jalan yang kami lalui tersebut menjadi refleksi berharga bahwa kehidupan manusia juga ibadat jalan yang penuh rintangan tersebut. Apabila kita terjatuh dan berhenti, maka kita akan terjebak dalam kubangan atau parit-parit di sekitar jalan hidup kita. Namun apabila kita terus berusaha dengan rendah hati menerima bantuan secara terbuka, kita pasti tidak akan kesulitan melewati jalan tersebut. Tuhan selalu akan menyertai kita. 

Dokumentasi :