Pelayanan Nikah di Petebang

Pada hari Jumat (20/11/2020), penulis bersama Romo Ubin melayani umat di Stasi Petebang. Pelayanan yang akan dilakukan adalah penerimaan sakramen perkawinan. Sebelumnya, pada kamis siang kami berencana untuk berangkat. Namun keadaan cuaca yang kurang bersahabat, kami menunda perjalanan karena hujan begitu deras. Sore sekitar pukul tiga, kami bersiap-siap untuk berangkat. 

Dari Tumbang Titi jalan masih begitu mulus meskipun hujan tidak terlalu deras. Setelah memasuki tanah merah, genangan air dan jalanan becek menjadi pemandangan sepanjang jalan. Kami harus melewati jalanan tersebut dengan hati-hati karena kondisi tanah agak basah dan becek. Dan benar, motor yang saya kendarai kehilangan kontrol ketika melewati 'jalan punggung kuda' di Natai Landau dan masuk ke parit yang ada di sekelilingnya. Berkali-kali motor saya sulit dihidupkan karena tanjakan terlalu terjal bahkan Romo Ubin sampai turun dan membantu saya untuk mendorong motor ke atas. Syukurlah ketika sampai di atas, jalanan selanjutnya tidak terlalu terjal dan kami tiba di Petebang dengan keadaan motor penuh lumpur.

Kami menginap di kediaman Kepala Desa Petebang. Setelah menaruh barang-barang di kamar,  kami menuju Gereja Kapel Stasi Petebang yang dilalui melalui jalan setapak beton yang tidak jauh dari tempat kami menginap. 

Di kapel,  pengantin,  saksi dan orang tua bersama beberapa umat telah berkumpul untuk gladi bersih. Ada yang mempersiapkan listrik dengan genset karena listrik PLN belum masuk ke gedung Gereja. Ada yang mempersiapkan alat musik dan sound system. Sementara Romo Ubin bersama penulis membantu kedua mempelai, saksi dan orang tua melatih prosesi misa perkawinan yang akan diadakan besok. Setelah gladi bersih, kami diajak untuk mengikuti prosesi adat di rumah mempelai, hanya saja kami sudah kelelahan dan kami memutuskan untuk kembali ke penginapan untuk beristirahat. 

Penulis sempat berjumpa dengan sahabat lama sewaktu SMA dan kami berbincang-bincang bersama hingga larut malam di rumah Kepala Desa Petebang. Kami mendengarkan cerita dari keluarga tersebut mengenai keadaan desa, masyarakatnya, dan sharing lainnya. Barulah, kami beristirahat supaya besok dapat melaksanakan peribadatan dengan baik dan lancar. 

Esok harinya, misa perkawinan dimulai. Kami sarapan di rumah Kepala Desa terlebih dahulu.  Mempelai berdua telah tiba di kapel sebelum kami datang ke sana. Penulis bersama Romo Ubin serta ketua umat mempersiapkan altar, sibori, piala, hosti, lilin dan lain-lain. Ketika segalanya telah siap, misapun dimulai. 

Misa dipimpin langsung oleh RD Bonifasius Ubin. Paduan suara perkawinan tersebut dilayani oleh umat di Tanjung. Misa perkawinan berjalan dengan sangat khidmat. Umat datang dengan melaksanakan protokol kesehatan, mencuci tangan sebelum masuk dan mengenakan masker. Penulis sendiri bertugas membagikan komuni kepada para umat.  Misa perkawinan selesai, kedua mempelai berfoto bersama-sama Romo,  keluarga dan umat. 

Usai merayakan misa, penulis bersama Romo Ubin bergegas untuk pulang mengingat cuaca sudah sangat bersahabat dan mengantisipasi terjadinya hujan ketika kami pulang nanti. Kami sempat mengunjungi rumah pengantin dan makan duluan, karena makan adat dimulai pukul tiga sore. Setelah makan,  kami berpamitan dan pulang menggunakan kendaraan motor.

Selama perjalanan pulang aman dan lancar karena tanah yang semula becek telah menjadi kering sehingga mudah untuk dilalui. Romo Ubin sempat terjebak di dalam cekungan, tetapi tidak terlalu menyebabkan masalah besar. Motor dapat berjalan kembali setelah naik di atas cekungan tadi. Sementara motor WIN yang saya kendarai berjalan dengan aman dan lancar. Kamipun tiba di pastoran dengan aman dan selamat. 

Penulis merasakan pengalaman yang sangat luar biasa berharga. Jalan yang kami lalui tersebut menjadi refleksi berharga bahwa kehidupan manusia juga ibadat jalan yang penuh rintangan tersebut. Apabila kita terjatuh dan berhenti, maka kita akan terjebak dalam kubangan atau parit-parit di sekitar jalan hidup kita. Namun apabila kita terus berusaha dengan rendah hati menerima bantuan secara terbuka, kita pasti tidak akan kesulitan melewati jalan tersebut. Tuhan selalu akan menyertai kita. 

Dokumentasi :